Imbalanced Work-Life Cause Instability

Image from this page
Beberapa hari lalu saya menulis di status Whatsapp saya: Imbalanced lifestyle cause Instability. Sebenarnya yang saya maksud lifestyle di situ adalah work-life. Ya, tahu dong berarti waktu itu saya lagi kepikiran dengan keseharian pegawai yang waktu jobnya (rada-rada) ngga jelas. I feel you, Guys.. :)

Namanya sebutlah A. Bukann.. ini bukan inisial siapa-siapa. Kalau ada kesamaan nama dan kejadian itu hanya kebetulan belaka, hehe... OK, A adalah seorang pegawai perusahaan penjualan. A bekerja dengan semangat, rajin dan bisa dibilang sering sekali overtime (jika dilihat dari kesepakatan waktu). Sering sekali, alias bukan cuma sekali sekali. Sekadar info, tentang penghitungan waktu lembur di perusahaan tempat A bekerja ini, tidak ada peraturan dan ketentuan yang jelas, alias ... you know lah.. tidak berarti untuk pemasukan lebih.

Lain halnya dengan B. B adalah rekan kerja A, yang bekerja justru dengan mengeluh. Mungkin ia menganggap kesenangannya tidak boleh diganggu, sampai ia menyadari dirinya sedang dikejar target penjualan dari atasan, lalu tergopoh-gopoh mencari-cari cara memenuhi target sampai mencari alasan. Sebagai orang yang merasa harus  selalu 'beruntung', ia memanfaatkan berbagai kelonggaran yang tercipta dari kurangnya pengawasan supervisor untuk kesenangan dirinya.

Apa yang bisa kita lihat dari keduanya? A bisalah dibilang lebih baik dari B. A tentu merasa dirinya lebih bersih, dengan menyadari bahwa ia tidak mengorupsi waktu maupun uang perusahaan. Tapi saya merasa, A tetap tidak adil. Terhadap siapa? Tentu terhadap dirinya sendiri.

Jika dikatakan ini bukan persoalan overtime fee, tentunya munafik, ya. Siapa sih yang tidak mau waktu kerjanya dibayar secara sah? Hanya tentunya tidak etis bagi A untuk mengeluh di depan atasan. Sementara, prinsip entrepreneurship justru mendukung itu. Buruh menjual skill, tenaga dan waktu.

Namun bukan itu saja. Bisa saja, ternyata penyebab A pulang sering telat adalah lantaran A sendiri kurang menata cara kerjanya dengan efisien. Solusinya, dengan menata pekerjaan supaya lebih efektif dan hemat waktu. Dengan begitu, sepertinya A bisa 'mencukur' jam-jam kerja overtime yang sebenarnya tidak perlu. Jikapun perlu, ia bisa mendelegasikan sebagian pekerjaan kepada anggota timnya. Memang, bekerja overtime ternyata bukan selalu lantaran workload yang sedang di luar batas. Sayangnya, overload atau tidak, tetap saja yang namanya bekerja overtime itu melelahkan badan plus mengurangi waktu istirahat. Bayangkan saja jika A harus melibatkan teman sekerja dalam sistem kerjanya yang kurang tertata baik. Tentu hal ini sangat menjengkelkan semua pihak...

Cara atau gaya kerja kita bisa jadi menggambarkan gaya hidup kita yang sebenarnya. Tipe yang njelimetkah, atau terlalu santai, atau teliti dan tertata rapih? Jika cara kerja kita belum bisa mengatasi tantangan dalam pekerjaan, maka hal itu akan membuat kita sering kehabisan tenaga dan stamina, kekurangan waktu,  termasuk waktu untuk aktivitas kita di luar urusan kerja. Akibatnya, kepentingan pribadi sering terabaikan, kemudian kepentingan keluarga ikut dinomorsekiankan (yang tadinya dianggap hanya karena emergency kemudian jadi kebiasaan). Akhirnya cepat atau lambat akan menyebabkan ketidakstabilan.

Awalnya yang terganggu biasanya kesehatan. Timbul stres, gampang sakit, muka tampak lelah... Yang jelas waktu untuk pribadi, untuk beristirahat dan mengerjakan hal lain seperti hobi, jadi berkurang jauh atau bahkan sampai tidak ada lagi. Quality time dengan keluarga? Hmm.. Boro-boro. Tapi masa iya, waktu kita hanya demi uang dari pagi sampai malam? (Lain halnya jika tidak sering terjadi, dan itu memang menghasilkan, alias mendatangkan pemasukan, hehe..)

Jika kita adalah owner, tentu kita perlu menghargai dedikasi pegawai yang demikian dengan peraturan mengenai overtime fee yang jelas, sekaligus menegakkan profesionalisme dalam perusahaan.

Hm.. Eh, tapi sebentar. Tidak mendapat ganjaran dalam bentuk materi, mungkin A sedang berharap akan menuai keuntungan dalam bentuk lain yang sepadan baginya. Misalnya, ilmu usaha yang benar-benar ia sedang perlukan, atau pengalaman kerja, untuk melompat ke jenjang yang lebih tinggi atau perusahaan yang lebih bonafid? Karena kalau tidak, sama saja A sedang buang-buang tenaga dan kesempatan dengan percuma. Dalam hal ini, rasanya prinsip A cukup baik untuk dipertimbangkan, ya? Hehe..

Postingan ini jelas-jelas bukan mengajak kita buat jadi seperti si B, (lihat paragraf di atas). Bekerja mesti ikhlas dan profesional, betul. Profesionalisme tetap penting untuk ditegakkan, termasuk di dalamnya datang dan pulang on time. Toh, jika masih bisa dilanjutkan besok, kenapa harus melelahkan diri sendiri? Penyakit tidak perlu dicari-cari. Apalagi sampai ngajak-ngajak orang lain ikut pulang larut. What's the point?
Leave your office on time, there's still tomorrow to continue doing the tasks. And tasks will always be there everyday.
Disclaimer: Well, cuma kepikiran aja mengenai gaya kerja. No more. :)

Comments

  1. Hmmmm... kalau saya mungkin tipe santai... antara si A dan si B .,tapi kerjanya cuma di rumah, ibu rumah tangga soalnya hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Me too, Mbak Retno. Santai, supaya otak juga ngga tergesa-gesa yg bikin cepet lelah. :D

      Delete
  2. Sepupuku punya atasan yg workaholic. Ga brenti sampai di dirinya sendiri, dia juga nuntut anak buah untuk all out ga inget waktu. Akhirnya banyak anak buah yg resign krn ga kuat dg tuntutan itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. Tenaga kerja gampang dicari, ngga gampang mempertahankan ya..

      Delete
  3. kerjaaan ku berhubungan dengan deadline mbak. jadi bisa si A atau si B tergantung waktu saja hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment


Mau ninggalin jejak tapi ngga punya akun gmail?
Bisa, koq. Pada bagian Comment as silakan pilih Name/URL dan masukkan datamu.

Belum punya URL blog?
Silakan masukan saja URL socmed kamu. Beres.

All comments are in moderation.
Terima-kasih! :)