Review Buku: Grace on Business



Grace On Business - Bisnis Sesungguhnya.

Memahami dan Menjalankan Bisnis dengan Pewahyuan Kasih Karunia

Daud Putranto, penulis buku Grace on Marriage.

**

Kenapa buku Grace On Business? Saya memilih untuk membeli dan membacanya, waktu (seperti biasanya) jalan-jalan ke toko buku dan menemukan buku ini. Secara sekilas, saya melihat buku tersebut ditulis dengan niat menghadirkan pemikiran-pemikiran kristiani dalam bahasa bisnis yg praktis dan dinamis.

Pemikiran kristiani yang dimaksud tadi, memang ada saja perbedaannya dengan pandangan-pandangan bisnis pada umumnya. Namun di sini, saya sebagai pemeluk iman kristiani mendapat pencerahan mengenai gimana sih mesti bersikap dalam bisnis. Seperti manakala orang mengalami kebangkrutan. Atau kegagalan...

Buku ini pada dasarnya adalah buku rohani. Jadi memang mesti dibaca dengan sudut pandang rohani kristen. Meskipun pada judul terdapat kata 'business', titik beratnya bukanlah seperti buku-buku bisnis praktis pada umumnya. Titik beratnya adalah mindset dalam memandang bisnis alias pekerjaan, sebagai jalan yang memang Tuhan sediakan buat kita.

Kita adalah Human Being.
Yup, kita manusia, buatan Tuhan yang paling mulia. The greatest. Keterpisahan kita dari Tuhan akan menyebabkan pribadi kita rapuh.

Pada saat mencerna penggalan tersebut, saya teringat ketika saya, merasa diperlakukan seperti robot. Saat itu saya merasa seperti di-brainwashed, tidak menikmati pekerjaan dan merasa asing, karena dipaksa menuruti jalan pikiran orang lain. Seperti mainan robot dengan remote control. Saya rapuh, karena saya kurang mengandalkan Tuhan. Saya 'tertipu' dengan perasaan-perasaan tidak nyaman yang merebut fokus saya. Untungnya keadaan itu sudah berlalu. Orang yang memperlakukan saya demikian tidak bersahabat sudah dirumahkan.

Seperti itulah yang saya bayangkan mengenai manusia robot, waktu membaca bagian bahwa kita bukan robot. Seolah olah harga diri manusia tidak lebih tinggi dari uang.

Kita Bukan Human Doing.
Menanggapi bagian ini, saya seperti mendapat perspektif baru. Bahwa kita bekerja bukan sebagai pencetak uang atau keuntungan. Memang, pada prosesnya kita tetap diminta untuk taat, berkerja, dan tidak bermalas malas. Namun, Tuhan sebenarnya telah menyediakan berkat bagi tiap-tiap orang, dan itu diperoleh dari Tuhan, bukan dari hasil usaha kita. Bukan karena kuat dan hebatnya kita.

Ingat kan, istilah: 'rejeki orang ngga akan tertukar'?

Lagi-lagi, saya teringat, ketika orang yang memperlakukan saya sebagai robot, berkomentar lagaknya pemimpin yang kecewa lantaran satu item barang kosong, dan saat itu sedang ada seorang konsumen yang hendak membeli. (Bayangkan kalau kita mau pakai cara berpikirnya dia juga. Profit cuma berapa perak saja lagaknya seperti kehilangan laba jutaan. Dari situ saja sudah ngga proporsional banget. Well, saya memang masih merasa aneh dengan lagak bos-bosan tersebut, dan bersyukur semua sudah berlalu)

By the way, menurut hemat saya, tentu bukan berarti kita abaikan saja strategi bisnis yang sudah kita pelajari. Namun dengan penyesuaian, kita tetap menjalankan bisnis yang mendahulukan keyakinan kita akan kasih karunia Tuhan atas jiwa, dan tentu juga usaha kita.

**

OK. Sedikit saja poin yang saya angkat, ya! Karena kalau mau dipaparkan semua di sini ya ngga muat. Jadi, teman-teman yang belum membacanya silakan beli buku ini, karena pembeberan dalam bukunya jauuh lebih lengkap. Termasuk ayat alkitab dan sebagian pengetahuan secara teologi. Sayapun masih ingin membaca lagi karena ada beberapa poin yang cukup menarik.

Masih ada lagi poin-poin menarik, antara lain kebebasan finansial; gimana sikap kita terhadap duit.

Sedikit cerita, waktu bergabung dengan sebuah bisnis,sudah lama banget dan saya sudah ngga aktif lagi,  saya sudah mengendus gejala cinta duit pada presentasi bisnis itu. Hal itu membuat saya ngeri jika kepribadian saya berubah. Hal ini juga yang saya ingat. Bahwa kita lebih butuh Yesus daripada uang. Uang hanya bisa membeli yang dijual. Namun Tuhan memberi kita nafas, hikmat, sukacita dan juga keperluan lain termasuk uang.

Saya juga teringat akan sikap seseorang yang selalu khawatir tentang keuangan. Tanpa uang wajahnya penuh kerutan kekhawatiran. Yang menyebalkan darinya saat itu, lama kelamaan ia ngga menyadari, kebutuhan akan uang dalam pikirannya sudah melebihi Tuhan. Menyedihkan. Ngga selalu mudah menyadarkan orang akan hal ini dengan mendiskusikannya atau mengajaknya berpikir. Akan mengerikan jika kita justru disadarkan dengan pengalaman yang cukup memukul. Saya pribadi tidak ingin. Semoga tidak...

Well, silakan dibaca secara lengkap!

Disclosure: tulisan ini saya buat sebagai pelunasan PR dari Yunie Sutanto. Seperti review buku sebelumnya. So, BUKAN atas pesanan apalagi pesanan penulisnya sendiri. Murni penilaian saya. Thank you!

Comments

Popular posts from this blog

My Late News

Manfaat Karbol Sereh Eco Fresh

Ngeblog Tapi Invisible?