Tentang Bagaimana Menghargai Diri Sendiri

I'm sorry..
Please forgive me..
I thank you..
and I love you..

Yup, bagi yang pernah baca, saya mengutipnya dari youtube. Sebuah mantra berasal dari Hawaii; Ho'oponopono. Keempat kalimat di atas memang disajikan dalam bentuk nyanyian dengan irama yang meneduhkan. Semacam self confession untuk mengembalikan lagi kondisi jiwa, setelah lelah dan terjebak hidup yang monoton.


But, Fyi, I didn't mean to make ho'oponopono as my mantra. I only like those 4 sentences. They are very simple to be said. Even, what's wrong with mentioning the words, hanya dengan maksud mengatakan kepada diri sendiri bahwa, "Betapa aku menghargai diriku sendiri"? Dengan menghargai dan mencintai diri, maka kita belajar memperlakukan orang lain dengan sama berharganya. Itu sudah.

Seringkali ditemukan, orang yang merasa menghargai dirinya, namun ternyata dengan pilihan yang salah. Seperti marah kepada orang lain yang dianggapnya merugikan perasaan dirinya, padahal (bisa saja) ialah yang justru kerjanya menuntut pihak luar dan orang lain malah yang dituntut bertanggung jawab atas rasa berharganya.

Atau, orang yang merasa menyayangi diri sendiri, tapi harus dengan makan makanan enak padahal belum tentu sehat. Atau harus dengan merokok, bersantai, minum minuman yang justru merusak tubuh dan akhirnya melemahkan mental. Awalnya mungkin sekedar enjoy, tapi lama lama, kalau ngga ngerokok, ngga nge-beer maka ngga tenang. Kerja ngga becus. Kata siapa?

Di Tengah Persoalan
Sebagai umat kristiani, saya seketika diingatkan akan ajakan Yesus: Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Tidak ketinggalan juga ungkapan pemazmur: Hai jiwaku, pujilah Tuhan! Sebuah ajakan untuk dengan antusias meninggikan Tuhan.

Mungkin karena belakangan ini saya merasa banyak masalah menimpa. Hal inilah yang justru mendorong saya makin mencari-Nya. Dan lately, I still can thank Him so much, that the problem was still about money. Money was important, I really know it! That's what make me feel soo bad when I loose it.

Gara-gara mementingkan uang buat beli beras, kebutuhan jiwa seringkali dibengkalaikan. Eh, buat beli yang lain juga, sih.. Banyak hal.

But then I think, how if I compare it with my soul? My family? Or my own God?

**

The last one, I read the news how some people feel when ISIS tried to force them following ISIS's ideology. I only can pray for them so far. May God give so much strength to their faith. Perjuangan teman-teman kita menghadapi kekerasan oknum lain (dalam bentuk ideologi keyakinan atau apapun) tidak akan sia-sia. Amen.

Pixabay.com


Edited at May 20 2016.

Comments

  1. ya, menghargai diri itu salah satu bentuk rasa syukur kita pada Tuhan. Dari situ kita belajar buat menghargai orang lain juga.

    uang penting. Rasa damai lebih penting lagi. Masalah, bila dihadapi dengan keberanian, akan membuat kita lebih kuat sesudahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul banget, Ibu Gembala.. Aku selalu berpikir, Tuhanku akan memenuhi kebutuhanku menurut kekayaan dan kemurahan-Nya. akupun merasa lebih tenang dan ikhlas.
      Thanks ya sudah mampir :)

      Delete

Post a Comment


Mau ninggalin jejak tapi ngga punya akun gmail?
Bisa, koq. Pada bagian Comment as silakan pilih Name/URL dan masukkan datamu.

Belum punya URL blog?
Silakan masukan saja URL socmed kamu. Beres.

All comments are in moderation.
Terima-kasih! :)