Tuesday, December 13, 2016

My Late News

Long time no posting! Hehe... Yup. Lately I feel it's so hard to write well.

Well, it has been December again. Like usual, we're going to face new year again. Uh, time flies! *and it sounds so usual too.* There's something I wanna share here, I don't know if it is useful or not. At first day last november, I have quit from the last place where I worked. Why oh why? I've chosen to start a new life journey. hehehe..

Some people seemed too 'kepo', I mean, they wanted to know what I was going to do then, whether I had got job at the other place, etc. It was fine, but I could not explain because it was really my 'stupid' or desperate choice. I felt tired. And I didn't get anything worth by giving my lifetime to the retail owner.

Sunday, October 16, 2016

Between Need and Want

Simply. I just remember what a friend has shared in whatsapp group, that we often think what we want as what we need. Even sometimes we don't wanna change the point of view though we know it's wrong.

I lately enjoy instant noodle to replace rice (health food) for dinner. I think, I also have to take control of things I want. I have to pay things important such as BPJS, which I have delayed the payment for 3 months. Wew... I checked it on this site, and I'm going to pay it tomorrow morning. Promise to myself.

What about the virtual account number? Because I use Bank Mandiri, it will be: 89888 0 129 xxx xxxx. It was from my BPJS's number: 000 129 xxx xxxx.

Wednesday, October 5, 2016

Ngeblog Tapi Invisible?

Haloo..

Pengen nanya aja.. Para blogger; kawakan atau bahkan profesional (pokoknya bukan yang baru coba-coba dengan minat setengah-setengah), ada ngga di antara kalian yang memang sengaja bikin blog personal yang di-set public, tapi sengaja pakai nama samaran? Blog personal, maksudnya bukan blog dengan tujuan tertentu seperti (apalagi kalau bukan untuk) cari income lewat adsense alias blog monetizing.

Cuma lagi nostalgia aja, sih.. Ingat waktu masih pakai domain gratisan dan tujuan ngeblog masih polos: cuma ingin berekspresi dalam tulisan, tanpa membayangkan bakal menulis sesuatu yang spectacular. Well, sejak awal ngeblog, saya sangat menjaga soal nama. Malas dikenal. Inginnya tetap merasa bebas meskipun sudah bercerita banyak hal. Malas di-stalk yang berlanjut ke kehidupan nyata. So, saya memutuskan pakai nama samaran. Saya ambil nama belakang saya, dengan asumsi: "itu kan memang nama saya, jadi saya ngga lagi jadi orang lain juga.."

Sunday, July 24, 2016

Imbalanced Work-Life Cause Instability

Image from this page
Beberapa hari lalu saya menulis di status Whatsapp saya: Imbalanced lifestyle cause Instability. Sebenarnya yang saya maksud lifestyle di situ adalah work-life. Ya, tahu dong berarti waktu itu saya lagi kepikiran dengan keseharian pegawai yang waktu jobnya (rada-rada) ngga jelas. I feel you, Guys.. :)

Namanya sebutlah A. Bukann.. ini bukan inisial siapa-siapa. Kalau ada kesamaan nama dan kejadian itu hanya kebetulan belaka, hehe... OK, A adalah seorang pegawai perusahaan penjualan. A bekerja dengan semangat, rajin dan bisa dibilang sering sekali overtime (jika dilihat dari kesepakatan waktu). Sering sekali, alias bukan cuma sekali sekali. Sekadar info, tentang penghitungan waktu lembur di perusahaan tempat A bekerja ini, tidak ada peraturan dan ketentuan yang jelas, alias ... you know lah.. tidak berarti untuk pemasukan lebih.

Lain halnya dengan B. B adalah rekan kerja A, yang bekerja justru dengan mengeluh. Mungkin ia menganggap kesenangannya tidak boleh diganggu, sampai ia menyadari dirinya sedang dikejar target penjualan dari atasan, lalu tergopoh-gopoh mencari-cari cara memenuhi target sampai mencari alasan. Sebagai orang yang merasa harus  selalu 'beruntung', ia memanfaatkan berbagai kelonggaran yang tercipta dari kurangnya pengawasan supervisor untuk kesenangan dirinya.

Apa yang bisa kita lihat dari keduanya? A bisalah dibilang lebih baik dari B. A tentu merasa dirinya lebih bersih, dengan menyadari bahwa ia tidak mengorupsi waktu maupun uang perusahaan. Tapi saya merasa, A tetap tidak adil. Terhadap siapa? Tentu terhadap dirinya sendiri.

Jika dikatakan ini bukan persoalan overtime fee, tentunya munafik, ya. Siapa sih yang tidak mau waktu kerjanya dibayar secara sah? Hanya tentunya tidak etis bagi A untuk mengeluh di depan atasan. Sementara, prinsip entrepreneurship justru mendukung itu. Buruh menjual skill, tenaga dan waktu.

Namun bukan itu saja. Bisa saja, ternyata penyebab A pulang sering telat adalah lantaran A sendiri kurang menata cara kerjanya dengan efisien. Solusinya, dengan menata pekerjaan supaya lebih efektif dan hemat waktu. Dengan begitu, sepertinya A bisa 'mencukur' jam-jam kerja overtime yang sebenarnya tidak perlu. Jikapun perlu, ia bisa mendelegasikan sebagian pekerjaan kepada anggota timnya. Memang, bekerja overtime ternyata bukan selalu lantaran workload yang sedang di luar batas. Sayangnya, overload atau tidak, tetap saja yang namanya bekerja overtime itu melelahkan badan plus mengurangi waktu istirahat. Bayangkan saja jika A harus melibatkan teman sekerja dalam sistem kerjanya yang kurang tertata baik. Tentu hal ini sangat menjengkelkan semua pihak...

Cara atau gaya kerja kita bisa jadi menggambarkan gaya hidup kita yang sebenarnya. Tipe yang njelimetkah, atau terlalu santai, atau teliti dan tertata rapih? Jika cara kerja kita belum bisa mengatasi tantangan dalam pekerjaan, maka hal itu akan membuat kita sering kehabisan tenaga dan stamina, kekurangan waktu,  termasuk waktu untuk aktivitas kita di luar urusan kerja. Akibatnya, kepentingan pribadi sering terabaikan, kemudian kepentingan keluarga ikut dinomorsekiankan (yang tadinya dianggap hanya karena emergency kemudian jadi kebiasaan). Akhirnya cepat atau lambat akan menyebabkan ketidakstabilan.

Awalnya yang terganggu biasanya kesehatan. Timbul stres, gampang sakit, muka tampak lelah... Yang jelas waktu untuk pribadi, untuk beristirahat dan mengerjakan hal lain seperti hobi, jadi berkurang jauh atau bahkan sampai tidak ada lagi. Quality time dengan keluarga? Hmm.. Boro-boro. Tapi masa iya, waktu kita hanya demi uang dari pagi sampai malam? (Lain halnya jika tidak sering terjadi, dan itu memang menghasilkan, alias mendatangkan pemasukan, hehe..)

Jika kita adalah owner, tentu kita perlu menghargai dedikasi pegawai yang demikian dengan peraturan mengenai overtime fee yang jelas, sekaligus menegakkan profesionalisme dalam perusahaan.

Hm.. Eh, tapi sebentar. Tidak mendapat ganjaran dalam bentuk materi, mungkin A sedang berharap akan menuai keuntungan dalam bentuk lain yang sepadan baginya. Misalnya, ilmu usaha yang benar-benar ia sedang perlukan, atau pengalaman kerja, untuk melompat ke jenjang yang lebih tinggi atau perusahaan yang lebih bonafid? Karena kalau tidak, sama saja A sedang buang-buang tenaga dan kesempatan dengan percuma. Dalam hal ini, rasanya prinsip A cukup baik untuk dipertimbangkan, ya? Hehe..

Postingan ini jelas-jelas bukan mengajak kita buat jadi seperti si B, (lihat paragraf di atas). Bekerja mesti ikhlas dan profesional, betul. Profesionalisme tetap penting untuk ditegakkan, termasuk di dalamnya datang dan pulang on time. Toh, jika masih bisa dilanjutkan besok, kenapa harus melelahkan diri sendiri? Penyakit tidak perlu dicari-cari. Apalagi sampai ngajak-ngajak orang lain ikut pulang larut. What's the point?
Leave your office on time, there's still tomorrow to continue doing the tasks. And tasks will always be there everyday.
Disclaimer: Well, cuma kepikiran aja mengenai gaya kerja. No more. :)

Thursday, June 9, 2016

Review Buku: Grace on Business



Grace On Business - Bisnis Sesungguhnya.

Memahami dan Menjalankan Bisnis dengan Pewahyuan Kasih Karunia

Daud Putranto, penulis buku Grace on Marriage.

**

Kenapa buku Grace On Business? Saya memilih untuk membeli dan membacanya, waktu (seperti biasanya) jalan-jalan ke toko buku dan menemukan buku ini. Secara sekilas, saya melihat buku tersebut ditulis dengan niat menghadirkan pemikiran-pemikiran kristiani dalam bahasa bisnis yg praktis dan dinamis.

Thursday, May 26, 2016

Jadi Blogger KOPI, Why Not?

Pertama kali saya ikut-ikutan ngeblog awalnya sederhana. Dulu kalau tidak salah sekitar tahun 2003 (kalau salah mohon dimaafkan, hehe), ketika MIRC masih cukup banyak yang minat (sekarang sepertinya sudah tidak populer, meskipun masih banyak pengguna).

Waktu itu saya melihat link footer seorang teman di sebuah forum. Penasaran. Lalu saya klik. Ternyata isinya diary online! Si teman adalah seorang pria, yang ternyata oke oke aja tuh, nulis diary. Bahkan "diary beneran" karena dulu isinya masih banyak yang curhatan seputar kerjaan, keluarga, dan tulisan personal lainnya.

Dari situ saya merasa, wah, gue juga bikin, ah!

Saturday, May 14, 2016

Tentang Bagaimana Menghargai Diri Sendiri

I'm sorry..
Please forgive me..
I thank you..
and I love you..

Yup, bagi yang pernah baca, saya mengutipnya dari youtube. Sebuah mantra berasal dari Hawaii; Ho'oponopono. Keempat kalimat di atas memang disajikan dalam bentuk nyanyian dengan irama yang meneduhkan. Semacam self confession untuk mengembalikan lagi kondisi jiwa, setelah lelah dan terjebak hidup yang monoton.

Tuesday, April 5, 2016

Book Review: Journey with You

Ceritanya lagi nulis review buku, nih. hehe.. Next time buku-buku lain akan menyusul. ;-)

Awalnya saya ketemuan dengan Yunie Sutanto, blogger yang kemudian menjadi teman. Kita ketemuan, waktu itu janjian di kantor High Desert, untuk ketemu upline kami. Pada kesempatan itu, ngga disangka Yunie memberi saya buku yang ditulis Ibu Febe Frisela, mentor rohaninya.